DINASTI-DINASTI ISLAM DI BAGIAN TIMUR DAN BARAT BAGHDAD

 

Oleh: Izzatus Sholihah

Dosen Tetap STAI Badrus Sholeh Purwoasri Kediri

Abstraksi; Catatan sejarah di tahun 132H/750M – 656H/1258M merepresentasikan masa kejayaan Islam dibawah pimpinan imperium Abbasiyah. Mulai Cordove di Spanyol sampai Multan di Pakistan mengalami kemajuan di segala bidang. Akan tetapi sehebat apapun masa kejayaan negara pasti diikuti masa kemunduran, bahkan kehancuran. Kemunduran dinasti Abbasiyah sendiri dilatarbelakangi penetapan status quo bangsa Arab atas ras-ras yang lain. Diskriminasi terhadap mereka yang non-Arab sudah menjamur – bahkan mentradisi – di masa itu. Fanatisme antar suku yang sejatinya belum bisa hilang dibawah panji Agama. Serta perbedaan sekte dalam Islam sendiri tumbuh sebagai kekuatan sentrifugal demi menghapus hegemoni Abbasiyah yang kemudian muncul dan memproklamirkan diri sebagai dinasti baru.

Kata kunci: Abbasiyah, baghdad, dinasti-dinasti kecil.

571 M tercatat sebagai kelahiran sang revolusioner, Muḥammad bin Abdullah. Beliau adalah keturunan suku Quraisy[1] Makkah. Lahir sebagai keturunan terhormat di antara suku-suku yang ada pada waktu itu tentu memilki nilai positif tersendiri. Sebab dalam tataran strata-sosial saat itu dibangun atas dasar kesukuan bukan identitas ras maupun kewarganegaraan.

Menginjak usia 40th, beliau menerima misi risālah kenabian dengan mengemban amanat da‘wah kepada seluruh umat dimuka bumi. Misi inilah yang kemudian memasuki tahap sejarah Islam. Hanya berjarak durasi 23th da‘wah, ajarannya telah menembus ke berbagai penjuru. Tersebar luasnya ajaran Islam bisa dibuktikan dengan mengutus para sahabat untuk menyampaikan ajarannya kepada Raja Negus penguasa Ethiopia, Raja Heraclius kaisar Romawi, Raja Khosrau II penguasa Persia.[2]

Sebelum Rasul wafat – lebih tepatnya pasca hijrah –  beliau mempersatukan umat di bawah panji Islam. Bahkan beliau memproklamasikan berdirinya sebuah negara dengan mengganti Yaṡrib[3] menjadi Madīnah.[4] Di tempat itulah pertama kalinya membangun Masjid Nabawi sebagai pusat kegiatan ummat Islam. Upaya mempersaudarakan dengan penduduk pribumi juga dilakukan oleh beliau. Di susul pembuatan undang-undang yang dikenal dengan istilah waṡiqah al-madīnah. Membuat batas wilayah sebagai basis teritorial, membuat lembaga pelengkap sebagaimana bait al-māl, sekretaris, dan bahkan duta.[5]

Pada masa itu pemeluk agama Islam hampir mendominasi jazirah Arab. Al-Quran dan Hadis merupakan entitas pembentuk pribadi yang berpengetahuan, berprinsip dan berakhlakul karimah. Pada masa ini peradaban Islam memang telah berkembang dan maju, hanya saja masih bersifat lokal, baik dari kebudayaan, adat-istiadat, dan cara berfikir.[6]

Pasca wafatnya Rasulullah saw, estafet kepemimpinan sebagai pembuat kebijakan, komandan pasukan dan kepala pemerintah belum sempat ditunjuk. Di sinilah nampak kebersaman dan kerukunan antar sesama muslim. Bahkan sahabat Anṣār legawa memberi kesempatan kepada sabahat Muhājirin untuk berasimilasi-struktural secara dipilihnya Abū Bakar sebagai khalīfah pada saat itu.[7] Tampuk kepemimpinan yang diamanatkan kepada Abū Bakar dipilih berdasar senioritas dalam suku.[8]

Masa kekhalifahan Abū Bakar sangat singkat sekali, sekitar ± 2th (632-634 M/ 11-13 H).[9] Abū Bakar banyak berjasa terutama dalam menyelesaikan konflik internal Islam.[10] Dalam posisi ini, beliau hanya memberi dua pilihan, tunduk tanpa syarat atau diperangi hingga binasa.[11] Upanya rekonsiliasi yang dilakukan terbukti berhasil dan para pembangkang itupun ada sebagian yang taubat kembali patuh pada ajaran agama Islam.

Tahun ke 13 H setelah wafatnya Abū Bakar[12], Umar menggantikan kepemimpinan umat Islam. Peralihan kepemimpinan ini langsung ditunjuk oleh khalifah pertama melalui wasiat dan surat sakti beliau. Umar bin al-Khaṭṭab terlihat  sangat terampil dalam mengatur urusan orang Islam. Beliau juga memperbarui organisasi negara, seperti, pemilihan kepala negara perlu ditetapkan sistem demokrasi (al-‘amru syūrā bainahum), membentuk kabinet dalam negeri (al-wizārāt), staf ahli negara dan sekretaris (al-kitābāt).[13] Kemudian Umar bin al-Khaṭṭab melanjutkan misi da‘wah ketiga arah; ke utara menuju wilayah Syiria di bawah pimpinan  Abū ‘Ubaidah ibn Jarraḥ, ke barat menuju Mesir di bawah pimpinan ‘Amr bin ‘Aṣ, ke timur menuju Irak di bawah pimpinan Suraḥbil bin Ḥasanaḥ.[14] Masa kepemimpinan ‘Umar bin al-Khaṭṭab bertahan ±10th.[15] Kemudian dilanjutkan oleh ‘Uṡmān bin ‘Affān setelah dipilih oleh tim formatur yang beranggotakan enam orang.[16]

Peran ‘Uṡman bin ‘Affān sebagai khalifah oleh para pakar sejarah belum bisa di nilai apresiatif. Justru sifat lemah lembutnya seakan membuka peluang manis bagi keluarga bani Umayyah yang pernah memegang kendali kekusaan pra-Islam.[17] Hal ini menyebabkan protes dari kalangan umat Islam sendiri, bahkan memicu perpecahan serta munculnya pihak oposisi yang berakhir dengan pembunuhan ‘Uṡman bin ‘Affān.[18] Bahkan peristiwa pembunuhan ‘Uṡman bin ‘Affān menjadikan khalifah pertama yang dibunuh oleh orang Islam. Masa kepemimpinan beliau sekitar 12 tahun kurang 12 hari, ada yang mengatakan kurang delapan hari.[19]

Diakui atau tidak, pembunuhan ‘Uṡman bin ‘Affān memiliki pengaruh signifikan pada keberlangsungan khalifah selanjutnya. Hal ini membuat masa kepemimpinan khalifah keempat tidak berjalan stabil dan – meminjam istilah Philip K. Hitti – kekhalifahan hanya sebagai lembaga politik saja. Dalam keadaan politik yang tidak stabil, ‘Ali bin Abī Ṭālib banyak mendapat tekanan dari para sahabat, tidak terkecuali ummi mukminin ‘Āisyah ra. Begitu juga pemberontakan yang dilakukan oleh pengikut Ṭalḥaḥ bin ‘Ubaidillah di Ḥijaz dan pengikut Zubair bin ‘Awwām di ‘Iraq.[20] Sementara Ṭalḥaḥ bin ‘Ubaidillah dan Zubair bin ‘Awwām sendiri adalah orang pertama kali yang membaiat dan mengakui ‘Ali bin Abī Ṭālib sebagai khalifah keempat. Keadaan inilah yang menyebabkan munculnya propaganda bahwa pembaiatan itu dilakukan dengan cara dipaksa.[21] Dalam kasus lain, muncul Mu‘āwiyah bin Abī Sufyān sebagai pihak oposisi yang saat itu menjabat sebagai gubernur Suriah dan masih kerabat ‘Utsmān bin ‘Affān dari Bani ‘Umayyah. Di saat yang sama, Nu‘mān bin Basyīr memantik api kemarahan umat Islam dengan membawa baju ‘Uṡman bin ‘Affān yang berlumuran darah serta potongan jari istrinya yang bernama Nāilah saat mencoba melindungi sang suami. Ditambah lagi Mu‘āwiyah menggantung baju dan jari tersebut di masjid Damaskus.[22] Inilah rentetan pemberontakan di masa kepemimpinan ‘Alī bin Abī Ṭālib hingga berujung pada abitrase yang merugikan pihak ‘Ali.

Jika diruntut dari aspek sejarah, didirikannya dinasti Bani Umayyah dan Bani ‘Abbāsiyah tidak lepas dari pengaruh pertikaian dua tokoh sentral yaitu Mu‘āwiyah bin Abī Sufyān dan ‘Alī bin Abī Ṭālib. Kemunculan dinasti Bani Umayyah dengan cara menggulingkan ‘Alī dari kursi kekhalifahan. Menghapus sistem demokrasi (al-‘amru syūrā bainahum) dengan sistem monarki dan menghapus sistem khilafah menjadi dinasti. Dari sinilah mulai berdiri dinasti Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus dengan masa kejayaannya ±90 tahun (661-750).

Jika dibandingkan dengan masa kejayaan Bani ‘Abbāsiyah maka waktu 90 tahun itu terlalu singkat untuk Bani Umayyah. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, antara lain faktor internal yaitu diskriminasi pada orang ‘ajam (sebutan untuk non-Arab) dalam strata sosial. Lebih-lebih pasa masa pemerintahan Yazid bin ‘Abdul Mālik atau disebut juga dengan Yazid II (101H/720M – 105H/724M) masyarakat menyetakan konfrontasi sebab stabilitas pemerintahan kacau yang dilatarbelakangi kepentingan etnis politik.[23] Faktor lain yakni dari sisi eksternal muncul satu kekuatan baru Bani ‘Abbās yang selama ini selalu mereka tindas.

Berdirinya dinasti Bani ‘Abbāsiyah ini dibentuk secara revolusioner dengan cara mengulingkan dinasti Bani Umayyah. Model penerapan pemerintahannya juga berbeda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Dinasti ‘Abbāsiyah dapat dikategorikan sebagai dinasti yang sangat maju dan makmur. Pertahanannya sangat kokoh dan mampu menandingi Bizantium pada saat itu. Pemerintahannya berjalan apik, mulai dari khalifah pertama sampai dengan khalifah ke delapan (al-mu‘tashim). Akan tetapi perang saudara antara al-Amin melawan al-Ma‘mun menjadi alasan pertama jatuhnya dinasti ini. Hal itu seakan membuka celah bagi warga asing untuk ikut campur dan mengambil peran dalam masalah internal pemerintahan yang dipelopori oleh Ṭāhir bin Ḥasan (seorang keturunan Turki). Disusul munculnya pemberontakan yang lain yang dimotori oleh Bābik al-Khurāmī guna menuntut bela al-Amin.[24] Munculnya serangan dari pihak Romawi dan diterapkannya mihnah khususnya dikalangan intelektual dan pelajar Islam. Serta yang lebih meresahkan adalah melemahnya pemerintahan pusat sehingga terjadi disintegrasi dibeberapa wilayah dan membentuk sebagai dinasti-dinasti kecil yang berdiri secara independen.[25]

  1. Dinasti-dinasti di Dunia Islam bagian Barat Baghdad

Dinasti Idrisiyah (789-926 M.)

Dinasti ini didirikan oleh seorang penganut Syi’ah, yaitu Idris bin Abdullah pada tahun 172 H./789 M. Dinasti ini merupakan Dinasti Syi’ah pertama yang tercatat dalam sejarah berusaha memasukkan Syi’ah ke daerah Maroko dalam bentuk yang sangat halus.[26]

Muhammad bin Idris merupakan salah seorang keturunan Nabi Muhammad SAW., yaitu cucu dari Hasan, putra Ali bin Abi Thalib.[27] Dengan demikian, dia mempunyai hubungan dengan garis imam-imam syi,ah. Dia juga ikut ambil bagian dalam perlawanan keturunan Ali di Hijaz terhadap Abbasiyah pada tahun 169/789, dan terpaksa pergi ke Mesir, kemudian ke Afrika Utara, di mana prestise keturunan Ali membuat para tokoh Barbar Zeneta di Maroko menerimanya sebagai pemimipin mereka. Berkat dukungan yang sangat kuat dari suku Barbar inilah, Dinasti Idrisiyah lahir dan namanya dinisbahkan dengan mengambil Fez sebagai pusat pemerintahannya.

Paling tidak, ada dua alasan mengapa Dinasti Idrisiyah muncul menjadi dinasti yang kokoh dan kuat, yaitu karena adanya dukungan yang sangat kuat dari bangsa Barbar, dan letak geografis yang sangat jauh dari pusat pemerintahan Abbasiyah yang berada di Baghdad sehingga sulit untuk ditaklukkannya.

Pada masa Kekhalifaan Bani Abbasiyah dipimpin oleh Harun Ar-Rasyid, (menggantikan Al-Hadi), Harun Ar-Rasyid merasa posisinya terancam dengan hadirnya Dinasti Idrisiyah tersebut, maka Harun Ar-Rasyid merencanakan untuk mengirimkan pasukannya dengan tujuan memeranginya. Namun, faktor geografis yang berjauhan, menyebabkan batalnya pengiriman pasukan. Harun Ar-Rasyid memakai alternatif lain, yaitu dengan mengirim seorang mata-mata bernama Sulaiman bin Jarir yang berpura-pura menentang Daulah Abbasiyah sehinngga Sulaiman mampu membunuh Idris dengan meracuninya. Taktik ini disarankan oleh Yahya Barmaki kepada Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Terbunuhnya Idris tidak berarti kekuasaan Dinasti Idrisiyah menjadi tumbang karena bangsa Barbar telah bersepakat untuk mengikrarkan kerajaan yang merdeka dan independen. Dikabarkan pula bahwa Idris meninggalkan seorang hamba yang sedang mengandung anaknya. Dan ketika seorang hamba itu melahirkan, kaum Barbar memberikan nama bayi tersebut dengan nama Idris dan mengikrarkan sumpah setia kepadanya sebagaimana yang pernah diikrarkan kepada bapaknya. Dan Idris inilah yang melanjutkan jejak bapaknya (Idris bin Abdullah) dan disebut sebagai Idris II.

Idris ibn Idris ibn Abdullah (Idris II) datang menggantikan ayahnya sebagai amir (177 H./793M.). Pada masa kepemimpinannya Dinasti Idrisi berkembang pesat. Pusat pemerintahan yang semula dari Walila dipindahkan ke Fes sebagai ibukota baru (192 H.). Dengan demikian, Idris II inilah yang dianggap sebagai pendiri yang sebenarnya Dinisi Idris.

Idris I dan putranya Idris II telah berhasil mempersatukan suku-suku Barbar, imigran-imigran Arab yang berasal dari Spanyol dan Tripolotania di bawah satu kekuasaan politik, mampu membangun kota Fez sebagai kota pusat perdagangan, kota suci, tempat tinggal Shorfa (orang-orang terhormat keturunan Nabi dari Hasan dan Husain bin Ali bin Abi Thalib), dan pada tahun 1959 di kota ini, telah didirikan sebuah masjid Fathima dan Universitas Qairawan yang terkenal.[28]

Pada masa kekuasaan Muhammad bin Idris (828-836 M.), Dinasti Idrisiyah telah membagi-bagi wilayahnya kepada delapan orang saudaranya, walaupun ia sendiri tetap menguasai Fez dan memiliki semacam supremasi moral terhadap wilayah-wilayah lainnya.[29] Setelah ia memerintah selama masa yang cukup tenang, putranya yang bernama Ali menggantikannya sebagai raja.

Pada masa Ali bin Muhammad (836-849M.), terjadi konflik antarkeluarga dengan kasus yang klasik, yaitu terjadi penggulingan kekuasaan yang pada akhirnya kekuasaan Ali pindah ketangan saudaranya sendiri, yaitu Yahya bin Muhammad.

Pada masa Yahya bin Muhammad ini, kota Fez banyak dikunjungi imigran dari Andalusia dan daerah Afrika lainnya. Kota ini berkembang begitu pesat baik dari segi pertumbuhan penduduk maupun pembangunan gedung-gedung megah. Di antara gedung yang dibangun pada masa itu ialah masjid Qairawan dan masjid Andalusia. Tapi ada pendapat lain bahwa di kota tersebut didirikan pula sebuah masjid yang diberi nama masjid Fathima yang merupakan benih dari masjid dan Universitas Qairawan yang terkenal pada tahun 859 M. tepat pada tahun 863 M., Yahya bin Muhammad meninggal dan kekuasaannya berpindah ke tangan putranya yaitu Yahya II.

Pada masa pemerintahan Yahya II ini terjadi kemerosotan yang disebabkan oleh ketidakmahiran Yahya II dalam mengatur pemerintahannya, sehinnga terjadilah pembagian wilayah kekuasaan. Keluarga Umar bin Idris I tetap memerintah wilayahnya, sedangkan Dawud mendapat wilayah yang lebih luas kea rah timur kota Fez. Keluarga Kasim menerima sebagian dari sebelah kota Fez bersama-sama dengan pemerintah wilayah suku Luwata dan Kutama. Husain (paman Yahya II), menerima bagian wilayah selatan kota Fez sampai ke pegunungan Atlas. Di samping ketidakmampuan mengatur pemerintahannya, Yahya juga pernah terlibat perbuatan yang tidak bermoral terhadap kaum wanita. Sebagai akibatnya, ia harus melarikan diri karena diusir oleh penduduk Fez dan mencari perlindungan di Andalusia sampai akhir hayatnyapada tahun 866 M.[30]

Dalam suasana yang mengecewakan rakyat, seorang penduduk Fez bernama Abdurrahman bin Abi Sahl Al-Judami mencoba menarik keuntungan dengan jalan mengambil alih kekuasaan. Namun, istri Yahya (anak perempuan dari saudara sepupunya), Ali bin Umar berhasil menguasai wilayah Kawariyyir (Qairawan) dan memulihkan ketentraman dengan bantuan ayahnya. Menurut cerita lain bahwa setelah Yahya II diusir oleh penduduk kota Fez, Ali bin Umar (paman dari ayah tiri Yahya) diangkat untuk menduduki tahta yang tak lama kemudian harus dilepaskan lagi akibat satu pemberontakan.[31]

Pada masa Yahya III, pemerintahan yang semrawut ditertibkan kembali sehingga menjadi tentram dan aman. Namun, setelah Yahya III memerintah dalam waktu cukup lama, ia terpaksa harus menyerahkan kekuasaan kepada teman kerabatnya yang diberi nama Yahya IV.

Yahya IV ini berhasil mempersatukan kembali wilayah-wilayah yang dikuasai oleh kerabat-kerabat yang lainnya, dan sejak itu Dinasti Idrisiyah terlibat dalam persaingan antara dua kekuatan besar, yaitu Bani Umayah dari Spanyol dan Dinasti Bani Fatimiah dari Mesir dalam memperebutkan supremasi dari Afrika Utara. Sebagaimana diketahui bahwa dinasti tersebut mempunyai aliran yang berbeda, yang satu beraliran Sunni (Bani Umayah), sementara yang satunya lagi (Bani Fatimiyah) beraliran Syi’ah. Kedua kekuatan tersebut, secara hati-hati menghindari bentrokan sehingga Fez dan wilayah-wilayah Idrisiyah pada waktu itu menjadi daerah pertikaian mereka.

Setelah masa Yahya IV, saat kota Fez dan wilayah-wilayah Idrisiyah menjadi pertikaian, seorang cucu Idris II, yang bernama Al-Hajjam berhasil menguasai Fez dan daerah sekitarnya. Akan tetapi, ia kemudian mendapatkan pengkhianatan dari seorang pemimpin setempat sehinnga kekuasaannya hilang dan hidupnya berakhir pada tahun 962 M., sedangkan anak-anaknya dan saudara-saudaranya mengundurka diri ke daerah sebelah utara (suku Barbar Gumara). Di sana, keluarga Idris dari kelompok Bani Muhammad mendirikan benteng di atas bukit yang diberi nama Hajar An-Nashr. Di benteng tersebut, mereka bertahan sampai lima puluh tahun sambil mengamat-amati kubu pertahanan Daulah Umawiyah dan Daulah Fatimiah.

Ada juga riwayat yang menerangkann bahwa jatuhnya Dinasti Idrisiyah disebabkan oleh Khalifah Muhammad Al-Muntashir yang membagi-bagikan kekuasaannya kepada saudara-saudaranya yang cukup banyak, sehingga mengakibatkan pecahnya Idrisiyah secara politis. Perpecahan tersebut merupakan faktor yang membahayakan keberadaan Dinasti Idrisiyah karena dalam waktu bersamaan, dating pula serangan dari Dinasti Fatimiah.[32]

Pada masa kepemimpinan Yahya III, Dinasti Idrisiyah ditaklukan oleh Fatimiyah dan yahya terusir dari kerajaan hinnga wafatnya di Mahdiyah. Dengan akhirnya Yahya, berakhir pula dinasti Idrisiyah.[33]

Dinasti Aghlabi (184 H-296 H / 800 M-909 M).

Dinasti ini didirikan oleh Ibrahim bin Aghlab. Beliau adalah anak pegawai Khurasan, tentara bani Abbasiyah. Pada tahun 179 H/795 M, Ibrahim mendapatkan hadiah di daerah Tunisia dari Khalifah Harun Ar-Rasyid dengan tujuan untuk menahan bila idrisiyah melakukan ekspansi ke negri mesir dan syam, dan juga sebagai imbalan kepada jasa-jasanya dan kepatuhannya membayar cukai tahunan.[34]

Pada zaman kepeimpinananya Ibrahim berjaya mengadakan perjanjian damai dengan kerajaan Idrisi, menjadikan kota Qairuwan sebagai ibu kota pemerintahan serta membangun Al-Qadim. Ibrahim berjaya memadamkan pertikaian antara Kharijiyah dan barbar.

Dinasti Bani Aghalab di perintah oleh 11 khalifah, antara lain

  1. Ibrahim (179 H/795 M)
  2. Abdullah I (197 H/812 M)
  3. Ziyaadatullah (210 H/817 M)
  4. Abu Ilqal Al-Aghlab (223 H/838 M
  5. Muhammad I (226 H/841 M
  6. Ahmad (242 H/856 M
  7. Ziyaadatullah II (248 H/863 M
  8. Abu Al-gharaniq Muhammad II (250 H/863 M
  9. Ibrahim II (261 H/875 M
  10. Abdullah II (289 H/902 M
  11. Ziyaadatullah III (290-296 H/903-909 M)

Dinasti Aghlabiyah merupakan tonggak terpenting dalam konflik berkepanjangan antara Asia dan Erofa dibawah pimpinan ziyadatullah 1, suatu armada bajak laut dikerahkan untuk menggoyang pesisir italia, perancis kemudian ziyadatullah mengirim sebuah ekspedisi untuk merebut sisilia dari bizantium dan berhasil dikuasai pada tahun 902 M. kontribusi terpenting dalam ekspedisi tersebut adalah menyebarnya peradaban islam hingga ke Erofa. Bahkan Renaisans di Italia terjadi karna tranmisi ilmu pengetahuan melalui pulau ini.[35] Dinasti ini juga terkenal di bidang arsitektur, terutama dalam pembangunan mesjid yaitu mesjid Qairawan, dan Qairawan menjadi kota suci keempat setelah Mekah, Madinah, dan Yerussalem.

Dinasti Thuluniyah ( 868- 901 M ).

Dinasti Thuluniyah mewakili dinasti lokal pertama di Mesir dan Suriah yang memperoleh otonomi dari Baghdad. Dinasti ini didirikan oleh Ahmad Ibn Thulun. Ahmad Ibn Thulun seorang prajurit Turki. Seperti orang- orang Turki lainnya, ia memperoleh peluang besar untuk menjabat di lingkungan istana. Ayah Ibn Thulun menjabat sebagai komandan pegawai istana. Ibn Thulun sudah barang tentu dibesarkan di lingkungan militer yang keras dan ketat. Inilah yang melatarbelakangi garis politik Ibn Thulun selanjutnya.[36]

Ahmad Ibn Thulun ini dikenal sebagai sosok yang gagah dan berani, dia juga seorang yang dermawan, hafidz, ahli dibidang sastra, syariat dan militer.[37]

Pada mulanya, Ahmad Ibn Thulun datang ke Mesir sebagai wakil gubernur Abbasiyah disana, lalu menjadi gubernur yang wilayah kekuasaannya sampai ke Palestina dan Suriah.[38] Pada abad ke 9 Masehi menjadi kebiasaan para wali ( gubernur ) untuk tetap tinggal di istana Baghdad, sementara tugasnya dilaksanakan oleh para wakilnya. Tahun 868 M, Ibn Thulun dikirim ke Mesir sebagai wakil wali. Karena ia bekerja secara efisien, populer dan bersedia tinggal di Mesir maka para gubernur Mesir berikutnya tidak menggantikannya. Pada tahun ini dia resmi diangkat oleh khalifah al-Mu’taz sebagai wali Mesir. Di saat Baghdad mengalami krisis yang menyebabkan khalifah al- Mu’taz meninggal, Ibn Thulun memanfaatkan situasi ini untuk melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad.[39]

Dalam membangun negerinya mula- mula ia menciptakan stabilitas keamanan dalam negeri. Setelah situasi relatif stabil, beralihlah perhatiannya kepada pembangunan bidang ekonomi, irigasi diperbaiki, pertanian ditingkatkan, perdagangan digiatkan sehingga pemasukan meningkat. Kemudian dalam bidang keamanan dia membangun angkatan perang dari oarng- orang Turki Negro dan lainnya. Dengan kuatnya militer, Ibn Thulun melakukan ekspansi ke Syam.

Setelah Ibn Thulun, kepemimpinan Mesir dilanjutkan oleh keturunannya, Khumarawaih, Jaisy, Harun dan terakhir Syaiban. Di bawah kepemimpinan Khumarawaih, dinasti Thuluniyah mencapai kejayaannya. Khalifah al Mu’tamid terpaksa harus menyerahkan wilayah kekuasaan pada Thuluniyah meliputi Mesir, Suriah, sampai gunung Taurus dan Mesopotamia, kecuali Mosul. Untuk menjalin hubungan baik dengan pemerintah Abbasiyah, khalifah al Mu’tadid dinikahkan dengan putri Khumarawaih.

Pada akhir pemerintahan Khumarawaih dinasti ini tampak mulai melemah karena kemewahan hidup Khumarawaih sendiri dan ketidakmampuannya mengendalikan administrasi dan tentara. Setelah dia meninggal, kepemimpinan diteruskan oleh putranya, Jaisy yang hanya memerintah satu tahun. Jaisy digulingkan oleh saudaranya, Harun yang kemudian memerintah selama sembilan tahun. Kemudian Harun tewas ketika meletus pemberontakan di Mesir. Pemerintahn berikutnya dipegang oleh pamannya, Syaiban yang hanya memerintah beberapa bulan. Pada tahun ini juga dinasti Thuluniyah kembali direbut oleh pemerintahn Abbasiyah. Ketidakmampuan wali terakhir Thuluniyah mengendalikan sekte- sekte Qaramithi di gurun Syiria membuat khalifah mengirimkan tentara untuk menaklukkan Syiria dan kemudian merebut Thuluniyah serta membawa keluarga dinasti yang masih hidup ke Baghdad. Setelah ditaklukkan , dinasti Thuluniyah jatuh dan hancur.[40]

Dinasti Thuluniyah juga ikut dalam memperkaya peradaban Islam. Contoh kemajuan prestasi dinasti Thuluniyah adalah dalam bidang arsitektur, telah berdiri sebuah masjid Ahmad Ibn Thulun yang megah, pembangunan rumah sakit yang memakan biaya cukup besar sampai 60.000 dinar, dan bangunan istana al Khumarawaih dengan balairung emasnya. Kemajuan prestasi bidang lainnya adalah di bidang militer. Thuluniyah mempunyai 100.000 prajurit yang cakap dan terlatih dari orang Turki dan budak belian dari bangsa Negro. Thuluniyah membangun benteng- benteng yang kokoh di atas pulau ar Raudah. Pada masa itu juga banyak dibangun irigasi sebagai sarana pertanian yang terletak di lembah sunagi Nil.[41]

Dinasti Iksidiyah ( 935- 965 M ).

Dinasti ini didirikan oleh Muhammad Ibn Tughi yang diberi gelar al- Ikhsidi (pangeran) pada tahun 935 M. Muhammad Ibn Tughi adalah perwira Turki yang diangkat menjadi seorang gubernur di Mesir oleh Abbasiyah pada saat Ar Radi atas jasanya mempertahankan dan memulihkan keadaaan wilayah Nil dari serangan Fatimiyah yang berpusat di Afrika Utara.[42]

Strategi pertama yang ia lakukan adalah memperkokoh angkatan perang dan mengajukan permohonan perluasan wilayah kekuasaan dengan syarat dia tetap tunduk dan setia pada Baghdad. Akhirnya, permohonan tersebut dikabulkan. Dia diberi wewenang wilayah Syam, disamping semakin memperoleh kepercayaan, baik dari masyarakat maupun khalifah karena keberhasilannya dalam mengembangkan perekonomian rakyat dan mengatasi gerakan Fatimiyah.[43]

Sewaktu Iksidi wafat, kedua putranya belum dewasa. Oleh karena itu, kekuasaan dilimpahkan kepada gurunya, Kafur al Ikhsidi. Kafur memproklamirkan diri sebagai wali. Berkat kepandaian Kafur, gerak maju Fathimi di sepanjang pantai Afrika Utara dapt ditahan, begitu pula dinasti Hamdani di Syiria Utara. Hanya setelah meninggalnya Kafur, Iksidiyah menjadi dinasti yang lemah. Pada masa itu, Abu al Fawarisaris Ahmad Ibn Ali yang menerima tahta setelah Kafur tidak bertahan lama karena kepemimpinannya yang sangat lemah. Sehingga serangan yang terus menerus dilancarkan oleh Fatimiyah terhadap pemerintahnnya membuat dinasti ini tidak berdaya dan tidak mampu mempertahankan kekuasaannya di Mesir. Sehingga dinasti ini dapat ditaklukkan oleh Fatimiyah.

Pada masa dinasti Iksidiyah ini pula terjadi peningkatan dalam dunia keilmuan dan gairah intelektual, seperti mengadakan diskusi- diskusi keagamaan yang berpusat di masjid- masjid. Juga dibangun sebuah pasar buku besar sebagai pusat dan tempat berdiskusi yang dikenal denagn nama Syuq Al Waraqin. Lahir pula ilmuwan besar seperti Abu Ishaq al Mawazi, Hasan Ibn Rasyid al Mishri, Muhammad Ibn Walid al Tamimi, Abu Amar al Kindi dan al Tayid al Mutanabi. Di samping itu, dinasti ini mewariskan bangunan- bangunan megah seperti sebuah Istana al Mukhtar di Raudah dan taman yang dikenal dengan Bustan al Kafuri, di samping itu didirikan sebuah gelanggang yang disebutMaydan al Ikhsidi.[44]

Dinasti Hamdaniyah (972- 1152 M).

Pada waktu dinasti Ikhsidiyah berkuasa di sebelah utara Mesir muncul pula dinasti lain sebagai saingannya, yaitu dinasti Hamdaniyah yang Syi’i.[45] Dinasti ini didirikan oleh Hamdan Ibn Hamdun, seorang amir dari suku Taghlib. Pada masa hidupnya, Abu Hamdan Ibn Hamdun pernah ditangkap oleh khalifah Abbasiyah karena beraliansi dengan kaum khawarij unutk menentang kekuasaan Bani Abbas. Akan tetapi, atas jasa putranya (Husain) Ibn Hamdun diampuni. Putranya yang bernama Al Husain adalah panglima pemerintahan Abbasiyah dan Abu Haija Abdullah diangkat menjadi gubernur Mousul oleh khalifah Al Muktafi pada tahun 905 M.[46]

Wilayah kekuasaan dinasti ini terbagi dua bagian, yaitu wilayah kekuasaan di Mosul dan wilayah kekuasaan di Halb ( Aleppo ). Wilayah kekuasaan di Aleppo, terkenal sebagai pelindung kesusastraan Arab dan Ilmu Pengetahuan. Pada masa itu pula muncul tokoh- tokoh cendekiawan besar seperti Abi al Fath dan Utsman Ibn Jinny yang menggeluti bidang Nahwu, Abu Thayyib al Mutannabi, abu Firas Husain Ibn Nashr ad daulah, Abu A’la al Ma’ari, dan Syaif  ad Daulah sendiri yang mendalami ilmu sastra, serta lahir pula filosof besar, yaitu Al- Farabi.[47]

Setelah meninggalnya Haija, tahta kerajaan di Mosul beralih pada seorang putranya, yaitu Hasan Ibn Abu Haija yang diberi gelar Nashir ad Daulah dan Ali Ibn Haija yang bergelar Syaif ad Daulah . Syaif ad Daulah inilah yang berhasil menguasai daerah Halb dan Hims dari kekuasaan dinasti Ikhsidiyah yang kemudian menjadi pendiri dinasti Hamdaniyah di Halb (Aleppo).

Mengenai jatuhnya dinasti ini terdapat beberapa faktor. Pertama, meskipun dinasti ini berkuasa di daerah yang cukup subur dan makmur serta memiliki pusat perdagangan yang strategis, sikap kebaduiannya yang tidak bertanggung jawab dan destruktif tetap ia jalankan sehingga rakyat menderita. Kedua, bangkitnya kembali Dinasti Bizantium di bawah kekuasaan Macedonia yang bersamaan dengan berdirinya dinasti Hamdaniyah di Suriah menyebabkan dinasti Hamdaniyah tidak bisa menghindari invasi serangan Bizantium yang energik sehingga Aleppo dan Himsh terlepas dari kekuasaannya. Ketiga, kebijakan ekspansionis Fatimiyah ke Suriah bagian selatan, sampai mengakibatkan terbunuhnya Said ad Daulah yang tengah memegang tampuk kekuasaan Hamdaniyah. Hingga dinasti ini jatuh ke tangan dinasti Fatimiyah.[48]

  1. Dinasti-dinasti di Dunia Islam bagian Timur Baghdad

Dinasti Tahiriyah (200 H-259 H / 820 M-872 M) 

Sebelum meninggal, Harun al-Rasyid telah menyiapkan dua anaknya yang diangkat menjadi putra mahkota untuk menjadi khalifah: al-Amin dan al-Ma’mun. Al-amin dihadiahi wilayah bagian barat,[49] sedangkan al-Ma’mun dihadiahi wilayah bagian Timur. Setelah Harun al-Rasyid wafat (809 M.) al-Amin putra mahkota tertua tidak bersedia membagi wilayahnya dengan al-Ma’mun. Oleh karena itu,pertempuran dua bersaudara terjadi yang akhirnya dimenangkan oleh al-Ma’mun.Setelah perang usai, al-Ma’mun menyatukan kembali wilayah Dinasti Bani Abbas.Untuk keperluan itu, ia didukung oleh Tahir seorang panglima militer, dan saudaranya sendiri yaitu al-Mu’tasim.Sebagai imbalan jasa, Tahir diangkat menjadi panglima tertinggi tentara Bani Abbas dan gubernur Mesir (205 H). Wilayah kekuasaannya diperluas sampai ke Khurasan (820-822 M.) dengan janji bahwa jabatan itu dapat diwariskan kepada anak-anaknya.

Dinasti Tahiriyah di Khurasan mengakui khilafah Abasiyah Dinasti ini dipimpin oleh empat amir: Tahir Ibn Husein (207-213 H.), Abdullah Ibn Tahir (213-248), dan Muhammad Ibn Tahir (248-259 H.). Dinasti Tahiriyah dianggap paling berjasa karena berhasil menjadikan kota Naisabur sebagai kota ilmu dan kebudayaan di Timur. Akan tetapi, khalifah Tahiriyah tidak berdya ketika Khalifah Bani Abbas tidak mendukung lagi kekuasaannya dan malah mendukung dinasti Safari yang melakukan ekkspansi dan dianggap berhasil oleh Khalifah Abassiyah (al-Mu’tamid dan al-Muwafaq). Oleh karena itu, dinasti Safari berhasil menghancurkan dinasti Tahriri di Khurasan dan berdirilah dinasti Safari.

Dinasti Saffariyah (254 H-289 H / 867 M-903 M)

Dinasti Safari didirikan oleh Ya’qub Ibn Laits al-Shafar yang berkuasa antara tahun 867-878 M. Ya’qub Ibn Laits al-Shafar adalah perwira militer yang kemudian diangkat menjadi amir wilayah Sajistan pada zaman khalifah al-Muhtadi 869-870 M.[50] Ya’qub Ibn Laits al-Shafar mendapat dikungan dari khalifah al-Mu’tamid (870-893 M.) untuk memperluas wilayah kekuasaannya hingga berhasil menaklukan Blakh, Tabaristan, Sind dan Kabul. Penaklukan yang dilakukannya membuat Ya’qub Ibn Laits al-Shafar semakin kuat dan mengirimkan hadiah kepada khalifah di Baghdad, dan bahkan ia pun didukung untuk menaklukan dinasti Tahriri di Khurasan. Akan tetapi, penaklukan wilayah-wilayah yang dilakukan oleh Ya’qub Ibn Laits al-Shafar membuat khalifah di Baghdad khawatir. Oleh karena itu, khalifah al-Mu‟tamad menaklukan Shafari yang dipimpin oleh Ya’qub Ibn Laits al-Shafar ; Ya’qub menantang khalifah dan menuntut kemerdekaan wilayahnya. Setelah meninggal, Ya’qub digantikan oleh saudaranya, Amr iIbn al-Laits (878-903 M.). Atas bantuan Ismail Ibn Ahmad al-Samani, khalifah Baghdad berhasil menangkap Amr Ibn al-Laits, kemudian ia dipenjara di Baghdad hingga meninggal pada zaman khalifah al-Mu’tadhdid (870-892 M.). Atas dasar itulah, khalifah menjadikan dinasti Samani sebagai penguasa Khurasan.[51]

 Dinasti Samaniyah (261 H-389 H / 874 M-999 M)

Untuk menelusuri kekuasaan Samani, kita harus kembali pada zaman al-Ma’mun yang membagi-bagi wilayah kepada para pendukungnya bersamaan dengan pemberian wilayah kepada Tahiri di Khurasan.Asad Ibn Saman diberi kewenangan oleh al-Ma’mun untuk memimpin daerah Transoxiana.[52] Kemudian dinasti kecil ini menaklukan wilayah-wilayah di sekitarnya sehingga berhasil menguasai Transoxiana, Khurasan, Sajistan, Karman, Jurjan, Rayy, dan Tabaristan. Dinasti Samani berkuasa hingga Khurasan setelah berhasil membantu Khalifah Abasiaah (al-Mut‟addid) menangkap dan memenjarakan Amr Ibn al-Laits (khlaifah dinasti Safari terakhir).[53]

Dinasti Gaznawiyah

Abd al-Malik Ibn Nuh (khlaifah dari dinasti Samani) mengangkat Alptigin untuk menjadi pengawal kerajaan.[54] Karena kesetiaannya yang baik, ia diangkat menjadi komandan pengawal kerajaan, dan akhirnya diangkat menjadi gubernur Khurasaan. Alptigin hanya setia kepada Abd al-Malik Ibn Nuh. Ketika Abd al-Malik Ibn Nuh wafat, ia tidak mentaati khalifah dinasti Samani yang baru, yaitu Manshur Ibn Nuhman.[55]

 Kesimpulan

Faktor-Faktor yang mempengaruhi munculnya dinasti-dinasti kecil disebabkan berbagai hal yang terjadi di pusat pemerintahan bani Abbasiyah memberikan pengaruh besar terhadap daerah-daerah kekuasaan daulah ini. Karena pemerintahan khalifah yang lemah banyak muncul pemberontakan-pemberontakan di berbagai daerah yang ingin membentuk dinasti-dinasti kecil yang melepaskan diri dari bani Abbasiyah.

Penyebab utama mengapa banyak daerah yang memerdekakan diri adalah terjadinya kekacauan atau perebutan kekuasaan di pemerintahan pusat yang dilakukan oleh bangsa Persia dan Turki.

Selain itu faktor kekuasaan politik dari Daulah Islamiyah mulai menurun dan terus menurun, terutama kekuasaan politik sentral, karena negara-negara bagian (kerajan-kerajan kecil) sudah tidak menghiraukan lagi pemerintah pusat, kecuali pengakuan secara politis saja. Kemudian  kekusaan “Militer Pusat” pun mulai berkurang daya pengaruhnya, sebab masing-masing panglima di daerah-daerah sudah berkuasa sendiri, bahkan pemerintah-pemerintah daerah pun telah membentuk tentara sendiri. Dan akhirnya putuslah ikatan-ikatan politik antara wilayah-wilayah Islam.

Dinasti-dinasti kecil yang lahir dan memisahkan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khilafah Abbasiyah, dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu barat dan timur. Adapun dinasti-dinaasti dibagian barat diantaranya adalah: Dinasti Idrisyiah, Dinasti Aglabiyah, Dinasti Thuluniyah, Dinasti Iksidiyah, dan Dinasti Hamdaniyah. Sedangkan di Timur diantaranya adalah: Dinasti Tahiriyah, Dinasti Saffariyah, Dinasti Samaniyah, dan Dinasti Gazwaniyah.

 

 

Daftar Pustaka

 

‘Abdussalām Hārūn, Tahżīb Sīrah Ibn Hisyām, (Maktabah al-Syamilah).

Abdullah, Taufik, Ensiklopedi Dunia Islam (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, tt).

Abdullah, Taufik, Ensiklopedi Dunia Islam.

al-Fiqi, Sa‘ad Karim, Penghianat-penghianat Dalam Sejarah Islam, terj Muhyidin Mas Rida, (Jakarta; Pustaka al-Kautsar, 2009).

Amīn, Ahmad, Fajr al-Islām (Mesir; Kalimāt ‘Arabiyah, 2001).

  1. E. Bosworth,Dinasti Dinasti Islam, Terj. Ilyas Hasan, ( Bandung: Mizan, 1980).

Hakim, Moh. Nur, Sejarah Dan Peradaban Islam, (Malang: UMM Press, 2004).

Hasan, Hasan Ibrahim, Tārīkh al-Islam.

Hitti, Philip K., History Of The Arabs, (Jakarta; Serambi, 2013).

Ibn Aṡir, al-Kāmil fi al-Tārīkh, (Mauqi‘ al-Waraq, tt).

Ibn Jauzī, al-Muntaẓam, (Maktabah al-Syamilah).

Ibn Kaṡir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, (Mauqi‘ Ya‘sūb, tt).

Ibn Khaldūn, Muqaddimah Ibn Khaldūn, (Mauqi‘ al-Waraq, tt).

Ibn Ṭaqṭaqī, al-Fakhrī fi al-Ādāb al-Sulṭaniyyah, (Mauqi‘ al-Waraq, tt).

Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw, (Jakarta; Gema Insani Press, 2001).

Mustaufi, Tarikh al-Guzida, (leiden: 1910).

Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta; Kencana 2007).

Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta; Kencana 2007).

Supriyadi, Dedy, Sejarah Peradaban Islam, ( Bandung: Pustaka Setia, 2008).

Syalabi, Ahmad, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta : Pustaka Alhusna, 1983).

Ubaedillah dkk, Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education), (Jakarta; ICCE, 2009).

[1] Quraisy derivasi dari qursy yang bermakna mengumpulkan, menghimpun, mencari nafkah, menghasut, nama ikan hiu. Dari sekian banyak makna memiliki keserupaan pada sisi watak-tabiat dan tingkah laku kebiasaan suku Quraisy. Ibn Jauzī dalam al-Muntaẓam menjelaskan disebut quraisy sebab mereka berdomisili – dalam waktu tertentu – di dekat samudra untuk mencari ikan dan kebanyakan hasil tangkapannya adalah hiu. Ada lagi yang mengatakan penisbatan quraisy dari leluhurnya yang bernama Quraisy bin Badr bin Makhlad bin Naḍr bin Kinānah. Lihat Ibn Jauzī, al-Muntaẓam, (Maktabah al-Syamilah) vol I, hlm 200. Sedangkan Ibn Hisyām dalam al-Bidāyah wa al-Nihāyah menyebutkan nomenklatur Quraisy sebab mereka selalu menghimpun dan mengumpulkan uang hasil bekerja dan berdagang. Mereka juga sering menjadi donatur serta penyuplai kebutuhan masyarakat Arab pada saat itu.

Abu al-Fida’ Isma’il Ibn Kaṡir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, (Mauqi‘ Ya‘sūb, tt) vol II, hlm 255.

[2] Ibn Aṡir, al-Kāmil fi al-Tārīkh, (Mauqi‘ al-Waraq, tt) vol I, hlm 252-253.

[3] Mengutip pendapat Ibn Khaldun dalam Muqaddimah Tārīkh-nya nama Yaṡrib sendiri diambil dari raja keturunan Arab Amaliqah yang bernama Yaṡrib bin Qāniyah bin Mahlāīl bin Iram bin ‘Abīl bin ‘Aus bin Iram bin Sām bin Nūh. Jawad ‘Ali, al-Mufassal fi Tarikh al-‘Arab Qabl al-Islam, (Mauqi‘ al-Waraq, tt) hlm 200.

[4] Yang perlu dicatat, pada saat itu Rasulullah memproklamasikan berdirinya negara Madinah, bukan negara Islam yang menjunjung tinggi pluralitas sosial. Pergantian nama Yaṡrib menjadi Madīnah bukan tanpa alasan, melainkan pelabelan nama tersebut lebih dikarenakan prinsip moral, keadilan, kesadaran humanisme, sikap toleransi, serta menjunjung tinggi hak-hak antar sesama oleh warga setempat. Lihat Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw, (Jakarta; Gema Insani Press, 2001) vol I, hlm 467-469. Penamaan tersebut senada dengan pengertian Anwar Ibrahim bahwa masyarakat madani yaitu sebuah sistem sosial yang subur berdasarkan prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan kestabilan rakyat. Inisiatif dari individu dan masyarakat berupa pemikiran, seni, pelaksanaan pemerintah yang berdasarkan undang-undang, dan bukan nafsu atau keinginan indifidu.

Ubaedillah dkk, Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education), (Jakarta; ICCE, 2009) cet III, hlm 176-177.

[5] ‘Abdussalām Hārūn, Tahżīb Sīrah Ibn Hisyām, (Maktabah al-Syamilah) vol I, hlm 150.

[6] Kehadiran Islam menghapus fanatisme kesukuan dan ras serta lebih menekankan bahwa semua manusia sama sebagaimana Q.S. al-Ḥujurāt 49:13 inna akrakum ‘indallah atqākum. Dalam riwayat hadis “al-mukminun ikhwatun, tatakāfa`u dimāukum, wa yas‘a bi ẓimmatihim adnāhum, wa hum a‘la yadan ‘ala man siwāhum” HR. Abī Dāwud, al-Nasāī, Aḥmad, al-Dāruquṭnī, al-Baihaqī. Begitu pula khutbah terakhir Rasul dengan menggunakan ṣiqat “Ayyuhā al-Nas” bukan Ayyuhā al-Muslimūn, Ayyuhā al-Muhājirūn, atau Ayyuhā al-Anṣār. Teks komplitnya sebagaimana berikut “Ayyuhā al-Nās, Innallaha ta‘āla ażhaba ‘ankum nakhwata al-jāhiliyyah wa fakhkharahā bi al-ābā`, kullukum li ādam wa ādam min turāb, laisa li ‘arabiyyin ‘ala ‘ajami faḍlun illa bi al-taqwa” HR Muslim. Meski dengan didikan serta pendoktrinan semacam ini, fanatisme kesukuan belum seratus persen hilang. Aksi yang paling nyata terjadi pada gazwah banī al-musṭaliq. Suatu ketika Rasul keluar menemui sahabat Muhājirin dan Anṣār, terdapat sahabat Muhājirin mengusir laki-laki dari Anṣār sampai terjadi pertikaian, lalu diantara mereka ada yang menyerukan dengan menyebut “Yā ma‘syara al-Anṣār” dipihak lain ada yang menyeru “Yā ma‘syara al-Muhājirīn”. Kemudian Rasul menegur para sabahat dengan mengatakan “mengapa kalian menggunakan seruan jahiliyah??”. Lihat Ahmad Amīn, Fajr al-Islām (Mesir; Kalimāt ‘Arabiyah, 2001) hlm 94.

[7] Menurut Ibn Isḥaq seluruh sahabat Muhājirin dan Anṣar pada saat itu sepakat membaiat Abū Bakar, kecuali Sa‘d bin ‘Ubādah, sebab pada mulanya sahabat Anṣar berencana membaitnya sebagai pengganti Rasulullah. Lihat Ibn Jauzī, al-Muntaẓam, hlm 434.

[8] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, (Jakarta; Serambi, 2013) hlm 174.

[9] Pendapat yang dinilai benar masa kepemimpinan Abū Bakar berlangsung sekitar dua tahun tiga bulan sepuluh hari. Meskipun ada yang mengatakan dua tahun empat bulang kurang tiga hari. Ibn Aṡir, al-Kāmil fi al-Tārīkh, vol I, hlm 395.

[10] Sejarah mencatat, konflik internal paling membahayakan adalah banyaknya para pembangkang agama (murtad), menolak ṣadaqah, bahkan banyak bermunculan nabi-nabi palsu diantaranya Musailamah al-Każżad di Yamāmah, al-Aswad al-Unsi di Yaman, Ṭulaiḥaḥ bin Khuwailid al-Asadī dari bani Asad, dan Sajjah binti al-Ḥariṡ dari bani Tamīm. Peperangan sengit di Ḥadīqat al-Maut (kebun kematian) dan perang di Baḥrain juga menambah catatan pembangkangan di masa kepemimpinan Abū Bakar. Lihat Sa‘ad Karim al-Fiqi, Penghianat-penghianat Dalam Sejarah Islam, terj Muhyidin Mas Rida, (Jakarta; Pustaka al-Kautsar, 2009) hlm 19-24.

[11] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, hlm 177.

[12] Abū Bakar meninggal pada malam selasa 8 jumādil akhir di usia 63, ini menurut qoul ṣaḥiḥ. Ada pendapat lain yang mengatakan Abū Bakar meninggal sebab diracun oleh seorang pengkhianat Yahudi. Praktek semacam ini juga pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi di masa Rasulullah. Mereka meletakkan racun di makan, kemudian dihidangkan kepada Abū Bakar dan al-Ḥāriṡ bin Kaladah. Setelah makan selesai al-Ḥāriṡ memberi tahu kepada Abū Bakar “kita telah makan makana beracun untuk satu tahun”. Ternyata benar setelah melalui masa satu tahun Abū Bakar meninggal dunia. Lihat Ibn Aṡir, al-Kāmil fi al-Tārīkh, vol I, hlm 395.

[13] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta; Kencana 2007) cet III, hlm 23-31.

[14] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, hlm 183.

[15] Lebih tepatnya sepuluh tahun enam bulan delapan hari. Peralihan khilāfah disebabkan beliau meninggal akibat dibunuh oleh Abū Lu`lu`ah budak Mugīrah bin Syu’bah. Ibn Aṡir, al-Kāmil fi al-Tārīkh, vol I, hlm 470.

[16] Enam orang tersebut adalah ‘Alī bin Abī Ṭālib, ‘Uṡmān ‘Affān, ‘Abdurraḥman bin ‘Auf, Sa‘d bin Abī Waqqāṣ, Zubair bin ‘Awwām dan Ṭalḥaḥ bin ‘Ubaidillah. Lihat Ibn Ṭaqṭaqī, al-Fakhrī fi al-Ādāb al-Sulṭaniyyah, (Mauqi‘ al-Waraq, tt), hlm 34.

[17] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta; Kencana 2007) cet III, hlm 31-32.

[18] Mengenai usia beliau, banyak perbedaan pendapat, ada yang mengatakan 82, 86, 88, 90, 95 tahun. Lihat Ibn Aṡir, al-Kāmil fi al-Tārīkh, vol II, hlm 19.

[19] Ibn Aṡir, al-Kāmil fi al-Tārīkh, vol II, hlm 19.

[20] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, hlm 203.

[21] Ibn Aṡir, al-Kāmil fi al-Tārīkh, vol II, hlm 23.

[22] Ibn Aṡir, al-Kāmil fi al-Tārīkh, vol II, hlm 23.

[23] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, hlm 350.

[24] Philip K. Hitti. History Of The Arabs, h. 350

[25] Hasan Ibrahim Hasan, Tārīkh al-Islam,vol II hlm 197.

[26] Philip K. Hitti. History Of The Arabs, (Jakarta: Serambi, 2002), h. 450

[27] C. E. Bosworth, Dinasti Dinasti Islam, Terj. Ilyas Hasan, ( Bandung: Mizan, 1980), h. 42

[28] Philip K. Hitti. History Of The Arabs, (Jakarta: Serambi, 2002), h. 451

[29] Moh. Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam, h. 8-9

[30] Dedi Supriyadi. Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), h. 159

[31] Dedi Supriyadi. Sejarah Peradaban Islam, h. 160

[32] Ensiklopedi IslamI, Jilid II, h. 178

[33] Philip K. Hitti. History Of The Arabs, (Jakarta: Serambi, 2002). h. 583

[34] Ahmad Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta : Pustaka Alhusna, 1983), hlm 165

[35] Ahmad Syalabi Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta : Pustaka Alhusna, 1983), hlm 166

[36] Moh. Nur Hakim, Sejarah Dan Peradaban Islam, (Malang: UMM Press, 2004), hal. 81

[37] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, hal. 452

[38] C. E. Bosworth, Dinasti Dinasti Islam, Terj. Ilyas Hasan, hal. 67

[39] Moh. Nur Hakim, Sejarah Dan Peradaban Islam, hal. 82

[40] Dedy Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, ( Bandung: Pustaka Setia, 2008), hal. 166

[41] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, hal. 454

[42] Dedy Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, hal. 166

[43] Moh. Nur Hakim, Sejarah Dan Peradaban Islam, hal. 83

[44] Moh. Nur Hakim, Sejarah Dan Peradaban Islam, hal. 83

[45] Moh. Nur Hakim, Sejarah Dan Peradaban Islam, hal. 84

[46] Dedy Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, hal. 167

[47] Dedy Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, hal. 168

[48] C. E. Bosworth, Dinasti Dinasti Islam, Terj. Ilyas Hasan, hal. 75

[49] Taufik Abdullah, Ensiklopedi Dunia Islam (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, tt) Vol II h. 114

[50] Mustaufi, Tarikh al-Guzida, (leiden: 1910) h. 373, lihat juga Taufik Abdullah, Ensiklopedi Dunia Islam, h. 113

[51] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, hal. 586

[52] Taufik Abdullah, Ensiklopedi Dunia Islam, h. 115

[53] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, hal. 589-590

[54] Taufik Abdullah, Ensiklopedi Dunia Islam, h. 129

[55] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, hlm. 172-173.

We usually reply with 24 hours except for weekends. All emails are kept confidential and we do not span in any ways.

Thank you for contacting us :)

Enter a Name

Enter a valid Email

Message cannot be empty